JAKARTA, KOMPAS.com – Nokia dan Samsung tengah menjajaki kemungkinan membangun pabrik pembuatan dan perakitan handphone atau ponsel (telepon seluler) di Indonesia.

Direktur Industri Telematika Departemen Perindustrian Ramon Bangun menyatakan, produsen ponsel asal Finlandia, Nokia dan Korea Selatan, Samsung sedang menjalankan uji kelayakan mengenai kemungkinan membangun full manufacturing (produksi penuh) atau hanya pabrik perakitan saja di Indonesia.

Menurut Ramon, jika kedua perusahaan pemegang merek dagang telepon seluler terkemuka dunia itu jadi berinvestasi di Indonesia maka pemerintah akan mendukung langkah positif mereka. Konsumen di Indonesia akan mendapatkan harga yang jauh lebih kompetitif apabila keduanya memproduksi di sini, juga akan menyerap tenaga kerja serta menghemat devisa negara.

Menurut Ramon, Nokia sangat serius dengan rencananya mengingat selama ini perusahaan tersebut menguasai lebih dari 50 persen pangsa pasar ponsel di Indonesia. Samsung memiliki prospek yang sangat besar membangun pabrik di Indonesia mengingat perusahaan ini sebelumnya telah membangun pabrik elektronik di Indonesia.

“Samsung hanya mengajukan izin perluasan ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) karena mereka sudah memiliki pabrik elektronik di Indonesia. Kelihatannya mereka juga serius,” kata Ramon. Pemerintah melalui Departemen Perindustrian, akan membantu mempermudah pemberian perizinan investasi bagi perusahaan-perusahaan asing.

Pasar telepon seluler di dalam negeri terus naik setiap tahun dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 15 persen dan akan terus naik penetrasinya terhadap populasi penduduk Indonesia. Jumlah telepon seluler yang beredar di Indonesia diperkirakan mencapai 80 juta unit dengan jumlah nomor yang beredar 110 juta.

Ramon memperkirakan ponsel baru yang beredar di Indonesia setiap tahunnya mencapai sekitar 20 juta unit dengan rata-rata usia pemakaian maksimal empat tahun. Diperkirakan sekitar 60-70 persen penduduk Indonesia saat ini menggunakan ponsel dengan nomor telepon yang beredar mencapai sekitar 130 hingga 140 juta nomor