Mulyadi (2003 : 55-83) membagi dua tahap dalam pengolahan data ABC system :
(1) activity-based process costing, yaitu pembebanan sumber daya (employee resource dan expense resource) ke aktivitas dan (2) activity-based object costing yaitu pembebanan activity cost ke cost object.
Activity-Based Process Costing, pada tahap ini biaya digolongkan dalam dua kelompok besar :
1. Biaya langsung produk/jasa – biaya yang dapat dibebankan secara langsung produk/jasa. Biaya ini dibebankan sebagai kos produk/jasa melalui aktivitas yang menghasilkan produk/jasa yang bersangkutan.
2. Biaya tidak langsung produk/jasa – biaya yang tidak dapat dibebankan secara langsung ke produk/jasa. Biaya ini dikelompokkan menjadi 2 golongan berikut ini :
a. Biaya langsung aktivitas – biaya yang dapat dibebankan secara langsung ke aktivitas melalui direct tracing.
b. Biaya tidak langsung aktivitas – biaya yang tidak dapat dibebankan secara langsung ke aktivitas. Biaya ini dibebankan ke aktivitas melalui salah satu dari dua cara berikut ini :
(1) driver tracing – dibebankan ke aktivitas melalui resource driver, yaitu baris yang menunjukkan hubungan sebab akibat antara konsumsi sumber daya dengan aktivitas.
(2) allocation – dibebankan ke aktivitas melalui basis yang bersifat sembarang.
Activity-Based Object Costing, tahap kedua ini berisi tiga rangkaian kegiatan penting : (1) penentuan activity cost (2) pembebanan biaya antar aktivitas (3) pembebanan biaya ¬result-producing activities ke cost object.
Pembentukan Activity Cost Pool, adalah akun yang digunakan untuk menggabungkan biaya dua atau lebih aktivitas yang memiliki activity driver yang sama untuk dapat dibebankan secara bersama-sama ke produk/jasa dengan menggunakan hanya satu activity driver.
Pembebanan biaya antar aktivitas. Oleh karena suatu aktivitas menggunakan aktivitas lain dalam menghasilkan keluarannya, biaya aktivitas tertentu perlu dibebankan kepada aktivitas pemakai.
Pembebanan biaya result-contributing activities ke result-producing activities.
Ada empat tahap yang dilakukan dalam tahap ini :
1. Perhitungan biaya result-contributing activities ke result-producing activities setelah menerima biaya dari support activities.
2. Pembebanan biaya result-contributing activities (aktivitas
3. pereparasian dan aktivitas pemeliharaan) ke result-producing activities (aktivitas pemerolehan order, aktivitas pemenuhan order, aktivitas perakitan dan aktivitas pengecatan)
4. Perhitungan total biaya result-producing activities setelah menerima pembebanan biaya dari result-contributing activities.
5. Perhitungan kos per unit activity driver dengan membagi hasil langkah ke(3) tersebut diatas dengan total activity driver yang bersangkutan.
Sedangkan menurut Hansen dan Mowen (2004:153-167), ada dua tipe dalam pembebanan biaya overhead pabrik dalam activity based costing, yaitu :
a. Tahap pertama terdiri dari lima langkah :
1) identifikasi aktivitas;
2) biaya-biaya dibebankan ke aktivitas;
3) aktivitas yang berkaitan dikelompokkan untuk membentuk kumpulan sejenis;
4) biaya aktivitas yang dikelompokkan dijumlah untuk mendefinisikan kelompok biaya sejenis;
5) tarif (overhead) kelompok dihitung.
b. Tahap kedua yaitu biaya dari setiap kelompok overhead ditelusuri ke produk. Hal ini dilakukan dengan menggunakan tarif kelompok yang dihitung pada tahap pertama dan uuran jumlah sumber daya yang dikonsumsi setiap produk. Ukuran ini adalah kuantitas penggerak aktivitas yang digunakan oleh setiap produk.

Menurut Blocher dkk. (2000 : 123-126) membagi dalam tiga tahap yaitu :

Tahap Satu: Mengidentifikasikan Biaya Sumber Daya dan Aktivitas
Tahap pertama dalam merancang sistem ABC adalah mengidentifikasikan biaya sumber daya dan melakukan analisis aktivitas. Biaya sumber daya adalah biaya yang dikeluarkan untuk melakukan berbagai aktivitas. Sebagian besar biaya sumber daya ada dalam subrekening buku besar, seperti bahan, supplies, pembelian, penanganan bahan, pergudangan, ruang kantor, mebel, dan peralatan lain, bangunan, peralatan pabrik, utilitas gaji, dan tunjangan, teknik dan akuntansi.
Analisis aktivitas adalah identifikasi dan deskripsi pekerjaan (aktivitas) dalam organisasi. Analisis aktivitas meliputi pengumpulan data dari dokumen dan catatan yang ada, dan penelitian/survei dengan menggunakan daftar pertanyaan, observasi, dan wawancara secara terus-menerus terhadap orang-orang kunci. Anggota tim proyek ABC biasanya menanyakan hal-hal ini kepada karyawan atau manajer kunci :
• Apa pekerjaan/aktivitas yang Anda lakukan?
• Berapa waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas tersebut?
• Apa sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas tersebut?
• Nilai apa yang dimiliki oleh aktivitas tersebut bagi perusahaan?
• Tim proyek ABC juga mengumpulkan data aktivitas dengan cara melakukan observasi dan membuat daftar aktivitas/pekerjaan yang dilakukan.
Proses pemanufakturan mempunyai empat kategori aktivitas :
1. Aktivitas berlevel unit adalah aktivitas yang dilakukan untuk memproduksi setiap satu unit produk. Contoh aktivitas berlevel unit (berdasarkan volume atau unit) adalah pemakaian bahan, pemakaian jam kerja langsung, memasukkan komponen, inspeksi setiap unit, dan aktivitas menjalankan mesin.
2. Aktivitas berlevel batch adalah aktivitas yang dilakukan untuk setiap batch atau kelompok produk. Aktivitas berlevel batch dilakukan setiap satu batch ingin diproduksi. Contoh aktivitas berlevel batch adalah setup, mesin, pemesanan pembelian, penjadwalan produksi, inspeksi untuk setiap batch dan penanganan bahan.
3. Aktivitas untuk mendukung produk. Adalah aktivitas yang dilakukan untuk mendukung produksi produk yang berbeda. Contoh aktivitas untuk mendukung produk adalah merancang produk, administrasi suku cadang, penerbitan formulir pesanan untuk mengubah teknik rekayasa dan ekspedisi.
4. Aktivitas untuk mendukung fasilitas. Adalah aktivitas yang dilakukan untuk mendukung produksi secara umum. Contoh aktivitas ini adalah keamanan, keselamatan kerja, pemeliharaan, manajemen pabrik, depresiasi pabrik dan pembayaran pajak properti.
Tahap Dua : Membebankan Biaya Sumber Daya ke Aktivitas
Aktivitas menimbulkan biaya sumber daya. Driver sumber daya (Resources driver) digunakan untuk membebankan biaya sumber daya ke aktivitas. Kriteria penting untuk memilih cost driver yang baik adalah hubungan sebab akibat. Driver sumber daya biasanya meliputi (1) meter untuk utilitas; (2) jumlah tenaga kerja untuk aktivitas yang berkaitan dengan penggajian; (3) jumlah setup untuk aktivitas setup mesin; (4) jumlah pemindahan untuk aktivitas penanganan bahan; (5) jam mesin untuk aktivitas menjalankan mesin dan (6) luas lantai untuk aktivitas kebersihan.
Tahap Tiga : Membebankan Biaya ke Objek Biaya
Jika aktivitas sudah diketahui, selanjutnya perlu untuk mengukur biaya aktivitas per unit. Hal ini dilakukan dengan cara mengukur biaya per unit untuk output yang diproduksi oleh aktivitas tersebut. Perbandingan selama beberapa waktu dengan organisasi lain dapat digunakan untuk menentukan efisiensi (produktivitas) untuk aktivitas-aktivitas tersebut.
Output merupakan objek biaya yang membutuhkan aktivitas, output untuk sebuah sistem biaya, biasanya berupa produk, jasa, pelanggan, proyek, atau unit bisnis. Contohnya, dalam perusahaan asuransi, output dapat berupa produk atau jasa individual yang ditawarkan kepada pelanggan, pelanggan, agen asuransi atau divisi yang menerima manfaat dari sumber daya perusahaan.
Driver aktivitas digunakan untuk membebankan biaya aktivitas ke objek biaya. Driver aktivitas biasanya berupa jumlah pesanan pembelian, jumlah laporan penerimaan barang, jumlah laporan, atau jam inspeksi, jumlah suku cadang yang disimpan, jumlah pembayaran, jam kerja langsung, jam mesin, jumlah setup dan waktu siklus produksi.