Pada tahap awal perkembangannya, ABC system dimanfaatkan untuk memperbaiki kecermatan perhitungan kos (product cost) dalam perusahaan-perusahaan manufaktur yang menghasilkan banyak jenis produk. Pada tahap selanjutnya, ABC system tidak lagi terbatas pemanfaatannya hanya untuk menghasilkan informasi harga pokok produksi yang akurat, namun meluas sebagai sistem informasi untuk memotivasi personel dalam melakukan improvement terhadap proses yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk atau jasa bagi customer. Semua jenis perusahaan (manufaktur, jasa dan dagang) sekarang dapat memanfaatkan ABC system sebagai sistem akuntansi biaya, baik untuk tujuan pengurangan biaya (cost reduction) maupun untuk perhitungan harga pokok produk/jasa yang akurat.
Menurut Mulyadi (2003 : 52) ada dua keyakinan dasar yang melandasi ABC system :
1. Cost is caused. Biaya ada penyebabnya dan penyebab biaya adalah aktivitas. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam tentang aktivitas yang menjadi penyebab timbulnya biaya akan menempatkan personel perusahaan pada posisi dapat mempengaruhi biaya. ABC system berangkat dari keyakinan dasar bahwa sumber daya menyediakan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas, bukan sekedar menyebabkan timbulnya yang harus dialokasikan.
2. The caused of cost can be managed. Penyebab terjadinya biaya (yaitu aktivitas) dapat dikelola. Melalui pengelolaan terhadap aktivitas yang menjadi penyebab terjadinya biaya, personel perusahaan dapat mempengaruhi biaya. Pengelolaan terhadap aktivitas memerlukan informasi tentang aktivitas.
Menurut Mulyadi (2003 : 53) pengertian dari activity-based cost system (ABC system) adalah “sistem informasi biaya berbasis aktivitas yang didesain untuk memotivasi personel dalam melakukan pengurangan biaya dalam jangka panjang melalui pengelolaan aktivitas”. ABC system didesain dengan keyakinan dasar bahwa biaya hanya dapat dikurangi secara signifikan melalui pengelolaan terhadap penyebab timbulnya biaya, yaitu aktivitas. Pengelolaan aktivitas ditujukan untuk mengerahkan dan mengarahkan seluruh aktivitas organisasi ke penyediaan produk/jasa bagi kepentingan pemuasan kebutuhan customers
Blocher dkk. (2000 : 120) mengartikan activity based costing sebagai “pendekatan penentuan biaya produk yang membebankan biaya ke produk atau jasa berdasarkan konsumsi sumber daya yang disebabkan karena aktivitas”.
Sedangkan Hansen dan Mowen (2004 : 54) mendefinisikan ABC sebagai “Suatu sistem kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya ke aktivitas dan kemudian ke produk”.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa activity based costing adalah suatu sistem akumulasi biaya dan alokasi pada aktivitas-aktivitas sebagai objek biaya dan penggunaan biaya aktivitas-aktivitas tersebut.
ABC system dikembangkan untuk mengantisipasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam sistem akuntansi biaya tradisional (traditional costing). Fokus dari activity based costing adalah aktivitas-aktivitas perusahaan, dengan penelusuran biaya untuk menghitung harga pokok produk yaitu aktivitas konsumsi sumber daya dan produk atau pelanggan yang mengkonsumsi aktivitas.
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang ABC system berikut penulis akan menjelaskan istilah-istilah berikut :
– Sumber Daya (Resources), merupakan unsur ekonomis yang dibebankan atau digunakan dalam pelaksanaan aktivitas. Gaji dan bahan merupakan contoh sumber daya yang digunakan untuk melakukan aktivitas.
– Objek Biaya (Cost Object), adalah bentuk akhir dimana pengukuran biaya diperlukan. Contoh objek biaya adalah pelanggan, produk, jasa, kontrak, proyek atau unit kerja lainnya dimana manajemen menginginkan pengukuran biaya secara terpisah.
– Elemen Biaya (Cost Element), merupakan jumlah yang dibayarkan untuk sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas dan terkandung di dalam “cost pool”. Contohnya ; cost pool untuk hal-hal yang berkaitan dengan mesin mungkin mengandung elemen biaya untuk tenaga, elemen biaya teknik dan elemen biaya depresiasi.
– Pemicu Biaya (Cost Driver), adalah faktor-faktor yang menyebabkan perubahan biaya aktivitas. Cost Driver merupakan faktor yang dapat diukur yang digunakan untuk membebankan biaya ke aktivitas dan dari aktivitas ke aktivitas lainnya, produk atau jasa. Dua jenis cost driver adalah driver sumber daya (resources driver) dan driver aktivitas (activity driver).
– Driver Sumber Daya (Resources Driver) merupakan ukuran kuantitas sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas. Resources driver digunakan untuk membebankan biaya sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas ke cost pool tertentu. Contohnya adalah persentase dari luas total yang digunakan oleh aktivitas.
– Driver Aktivitas (Activity Driver) adalah ukuran frekuensi dan intensitas permintaan terhadap suatu aktivitas terhadap objek biaya. Activity driver digunakan untuk membebankan biaya dari cost pool ke objek biaya. Contohnya adalah jumlah suku cadang yang berbeda yang digunakan dalam produk akhir untuk mengukur konsumsi aktivitas penanganan bahan dari setiap produk.