Akuntansi biaya adalah sistem akuntansi yang khusus digunakan untuk mengumpulkan, menggolongkan, mencatat, dan meringkas secara sistematis data biaya dalam suatu entitas atau perusahaan serta menyajikannya dalam bentuk laporan-laporan biaya (terutama biaya produksi) kepada pihak-pihak yang memerlukan informasi biaya.
Klasifikasi Biaya adalah pengelompokan biaya secara sistemik atas keseluruhan data yang dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas sehingga dapat memberikan informasi yang lebih berarti dan berguna.
Menurut Munawir (2002 : 308), pengklasifikasian biaya pada umumnya dilakukan adalah :
1. Dapat tidaknya cost atau biaya tersebut ditelusuri (traceability) ke objek yang dibiayai, atau pembebanan biaya ke objeknya, maka dapat dibedakan antara biaya langsung dan biaya tidak langsung
2. Prediksi perilaku cost atau biaya dalam merespon perubahan kegiatan dan pemicu aktivitas (cost behavior and activity drivers), dapat dibedakan antara biaya variabel, dan biaya tetap, serta biaya semivariabel.
3. Untuk tujuan penyusunan laporan keuangan eksternal atau sesuai dengan fungsi perusahaan (product cost and financial reporting) , dapat dibedakan antara biaya produksi (yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik), dan biaya periode yang meliputi biaya pemasaran, serta biaya administrasi dan umum.
4. Sesuai dengan tujuan pembuatan keputusan (decision making) dibedakan antara biaya relevan, sunk cost, dan biaya kesempatan.
Menurut R.A Supriyono (1999:16) pengertian harga pokok produksi adalah :

“Harga pokok adalah jumlah yang dapat diukur dalam satuan uang dalam bentuk :
– kas yang dibayarkan, atau
– nilai aktiva lainnya yang diserahkan/dikorbankan, atau
– nilai jasa yang diserahkan/dikorbankan, atau
– tambahan modal dalam rangka pemilikan barang dan jasa yang diperlukan perusahaan, baik pada masa lalu (harga perolehan yang telah terjadi) maupun pada masa yang akan datang (harga perolehan yang belum terjadi).
Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa harga pokok produksi adalah semua biaya yang dikeluarkan/dikorbankan oleh perusahaan baik langsung maupun tidak langsung terserap dalam proses produksi barang atau jasa yang akan dijual. Dari biaya yang dikeluarkan tersebut dapat diketahui harga pokok produksi barang atau jasa yang dihasilkan dan persentase laba yang diharapkan.
Dalam menentukan harga pokok produksi suatu barang atau jasa, harus diperhitungkan secara akurat, karena kesalahan dalam penentuan harga pokok akan mengakibatkan kesalahan dalam penentuan harga jual yang merugikan perusahaan.
Elemen biaya produksi atau pemanufakturan adalah sebagai berikut :
a. Bahan Baku Langsung
Yaitu biaya-biaya perolehan semua bahan baku yang dapat diidentifikasi sebagai bagian dari barang jadi dan bisa ditelusuri ke barang jadi dengan cara feasible yang ekonomis.
b. Biaya Tenaga Kerja Langsung
Yaitu gaji semua tenaga kerja yang dapat diidentifikasi dengan cara feasible yang ekonomis dengan produksi barang jadi. Biaya tenaga kerja langsung bersifat variabel, yaitu berfluktuasi sesuai dengan keadaan yang menentukannya, yaitu sesuai dengan jumlah jam kerja yang dilakukannya atau dapat juga berfluktuasi sesuai dengan volume produksi yang dihasilkannya.
c. Biaya-biaya manufaktur tidak langsung atau biaya overhead pabrik
Adalah semua biaya selain bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung yang berkaitan dengan proses manufaktur.
Biaya-biaya yang termasuk biaya overhead pabrik, terdiri dari :
1) Biaya tenaga kerja tak langsung, termasuk gaji karyawan yang dihitung menurut jam kerjanya, yang tidak langsung berpartisipasi untuk memproduksi suatu produk yang sebagian besar berisi tenaga kerja yang disumbangkan untuk penanganan bahan baku (material handling), perawatan (maintenance), pengendalian kualitas (quality control) dan inspeksi. Misalnya gaji mandor, penjaga gudang, bagian keuangan pabrik, dan lain-lain.
2) Biaya fasilitas dan peralatan, seperti asuransi, depresiasi peralatan pabrik, alat-alat (tooling). Biaya-biaya ini juga termasuk sewa dan biaya yang berkaitan dengan fasilitas yang lain seperti biaya energi dan perawatannya.
3) Biaya-biaya perekayasaan, seperti gaji insinyur produksi, industri, dan insiyur lain yang berkaitan dengan perancangan dan pemeliharaan proses produksi.
4) Biaya-biaya overhead material, termasuk yang berkaitan dengan pengadaannya, perpindahannya (kecuali biaya penanganan bahan baku, yang telah termasuk di dalam biaya biaya tenaga kerja langsung), dan koordinasi bahan baku, komponen-komponen, suku cadang (sub assembly) dan produk jadi. Biaya-biaya ini juga termasuk gaji bagian pembelian, perencana produksi, penerimaan, gudang, lalulintas, dan sistem pemanufakturan. Contoh biaya bahan tidak langsung adalah biaya bahan bakar, minyak pelumas (oli) dan lain-lain.
Biaya manufaktur tidak langsung/overhead merupakan biaya yang kompleks, karena biaya ini tidak langsung berhubungan dengan proses produksi. Untuk mempermudah perhitungan pembebanan biaya ini digunakan tarif overhead pabrik yang ditentukan terlebih dahulu.
Ada beberapa basis yang digunakan sebagai dasar penentuan biaya overhead pabrik, seperti :
– sekian rupiah per unit produk
– prosentase dari biaya tenaga kerja langsung
– sekian rupiah per jam tenaga kerja langsung
– sekian rupiah per jam kerja mesin.
Setiap basis memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan basis yang dipilih harus sesuai dengan sifat dan produk yang dihasilkannya.
Berikut gambar arus biaya dalam akuntansi tradisional yang berfokus ke Perhitungan harga produk :
Ada dua macam akumulasi harga pokok produksi yang sering digunakan pada perusahaan-perusahaan industri sesuai dengan proses produksi yang dilakukannnya, yaitu : sistem harga pokok pesanan (job order costing system) dan sistem harga pokok proses (process costing system).
Job order costing method adalah metode pengumpulan kos produk/jasa yang memperlakukan setiap pesanan sebagai suatu unit keluaran yang unik dan membebankan activity cost ke setiap pesanan pada saat pesanan yang bersangkutan mengkonsumsi aktivitas. Sedangkan process costing method adalah metode pengumpulan kos produk/jasa yang dihasilkan dalam periode waktu tertentu, dan membebankan activity cost ke seluruh produk/jasa yang dihasilkan dalam periode waktu tertentu (Mulyadi : 2003).
terdapat dua metode penetapan harga pokok yang biasa digunakan dalam kebijaksanaan perusahaan, yaitu : “harga pokok penuh/absorpsi (absorption costing) dan harga pokok variabel (variable costing)”.
Harga pokok absorpsi dimaksudkan bahwa barang jadi menyerap semua elemen biaya produksi, dan menjadi bagian dari persediaan barang jadi yang menjadi aktiva perusahaan sampai barang tersebut terjual. Harga pokok variabel sering disebut biaya langsung (direct costing), dimana produksi hanya dikonsumsikan dari biaya-biaya variabel saja yang mengalami perubahan secara proporsional dengan perubahan volume produksi. Biaya-biaya produksi ini meliputi biaya material, biaya tenaga kerja langsung dan semua biaya overhead yang variabel terhadap hasil produksi.

About these ads